We are apologize for the inconvenience but you need to download
more modern browser in order to be able to browse our page

Download Safari
Download Safari
Download Chrome
Download Chrome
Download Firefox
Download Firefox
Download IE 10+
Download IE 10+

YANG SETIA SAMPAI AKHIR DIALAH YANG DISELAMATKAN

Berbicara tentang kesetiaan adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita, baik sebagai Umat Allah maupun sebagai anggota masyarakat. Kesetiaan akan menentukan kualitas dan kesuksesan kita dalam hidup, apapun status dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita serta situasi dan kondisi yang kita hadapi. Konsekuensi lebih lanjut, orang setia akan banyak diserahi tanggung jawab. Ingatlah perumpaan Yesus tentang talenta, ‘ orang yang setia terhadap perkara-perkara yang kecil, akan diserahi tanggung jawab untuk mengurus perkara-perkara yang besar’ (bdk. Mat 25: 21-23). Demikian juga kita  dalam beriman akan Allah.  Kita telah diciptakan oleh Allah sehakikat dengan Dia (bdk. Kej 1: 26; Keb 2: 23), agar kita dapat berpikir, merasa dan bertindak seperti Allah berpikir, merasa dan bertindak. Kita juga dipercayakan oleh Allah untuk menjadi rekan kerjaNya dalam karya penciptaan-Nya dan karya keselamatan-Nya selama perziarahan kita di dunia ini. Inilah ide Allah untuk manusia sejak awal, supaya manusia itu bahagia dan selamat, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Namun dalam perjalanannya, manusia tidak mampu memenuhi harapan Allah itu. Manusia jatuh ke dalam dosa (bdk. Kej 3-4). Meskipun demikian, Allah tetap mengasihi manusia. Karena itu, Allah mengutus Putera-Nya Yesus Kristus ke dunia  untuk menebus dosa manusia (bdk. Yoh 3: 16). Untuk tugas ini, Yesus harus menjadi manusia, menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk keselamatan kita (bdk. Ibr 10: 11-14.18; Yoh 15: 13). Terhadap cinta dan belaskasihan Allah itu, kita hendaknya menyatakan ketaatan iman kepada-Nya dan hidup seturut kehendak-Nya. Setiap umat beriman yang hidup seturut kehendak Allah selama perziarahannya di dunia, akan selamat dan hidup bahagia bersama Bapa dalam kerajaanNya, bila pengembaraannya berakhir (bdk. Dan 12: 1-3). Inilah tujuan dari hidup kita dan tujuan dari perziarahan kita di dunia, yakni ada bersama Allah dalam kebahagiaan kekal. Dalam pengadilan terakhir, kita semua akan diadili oleh Allah menurut perbuatan kita. Yang hidup seturut kehendak Allah, akan hidup bahagia bersama Bapa dalam kerajaanNya (bdk. Mrk 13: 24-32). Hal itu terjadi ketika Anak Manusia datang untuk kedua kalinya.

Kapan persisnya kedatangan Anak Manusia itu? Tak seorang pun yang tahu, kapan waktunya. Para malaikat dan Anak manusia pun tidak tahu, hanya Bapa yang tahu. Untuk saya tidak terlalu penting kapan Anak Manusia datang untuk mengadili kita. Yang paling penting untuk saya, apakah saya sudah hidup seturut kehendak Allah atau tidak?  Sabda Allah sendiri sudah menjadi norma yang menjadi pegangan untuk kita meraih masa depan yang cemerlang itu. Maka pertanyaan refleksi untuk kita, ‘apakah hidup saya sesuai dengan harapan Allah sejak

awal penciptaan, yakni mampu berpikir, merasa dan bertindak seperti Allah berpikir, merasa dan bertindak?’ Apakah hidup saya sungguh menjadi saluran rahmat dan berkat bagi sesama atau justru menjadi sandungan untuk sesama?’ Jika belum, mari kita ikuti perkataan Santo Fransiskus, “Mari kita berbuat sekali lagi, sebab selama kita belum berbuat apa-apa”. TUHAN MEMBERKATI KITA.

Oleh : Pst. Leonard Paskalis Nojo, OFMCap