We are apologize for the inconvenience but you need to download
more modern browser in order to be able to browse our page

Download Safari
Download Safari
Download Chrome
Download Chrome
Download Firefox
Download Firefox
Download IE 10+
Download IE 10+

Mengubah Sikap Dan Citra Diri

Mengubah Sikap Dan Citra Diri

Renungan Sabda Hari Minggu Adven I, Tahun A/I – 2016 : 26 – 27 November 2016

Oleh : Romo Nobertus Desiderius, OFMCap.

Menjelang pemilihan para wakil rakyat biasanya kita mendengar banyak sekali slogan atau kata-kata persuasif yang cenderung terarah pada memperbaiki situasi agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Perubahan dan perbaikan dalam tata pemerintahan dan kebijaksanaan selalu diarahkan kepada kesejahteraan orang banyak. Datangnya sebuah perubahan dan perbaikan berawal dari adanya harapan akan situasi yang lebih aman, damai dan sejahtera.

Bacaan-bacaan dalam Minggu Adven I ini membawa pesan yang sangat kental akan adanya sebuah perubahan dan perbaikan universal dalam hidup manusia. Gambaran kerinduan akan datangnya Kerajaan Damai yang diantisipasi dengan sikap berjaga-jaga. Manusia selalu merindukan kedamaian. Dan nabi Yesaya dalam bacaan pertama menunjukkan bahwa kedamaian itu akan datang pada akhir jaman. Sebelum saat itu tiba Tuhan sudah menunjukkan jalan-jalanNya kepada manusia. Manusia harus mengubah seluruh sikap hidup yang jahat menjadi baik. Menempa pedang menjadi mata bajak, mengubah tombak menjadi pisau pemangkas, meninggalkan peperangan dan konflik sebagai jalan menuju hidup bersama yang penuh damai.

Pesan Paulus dalam Roma 13 juga memiliki nada yang serupa, yaitu adanya perubahan sikap hidup. Dalam masa penantian Tuhan tersebut kita jangan bersikap pasif menunggu, sehingga kita tidak memanfaatkan setiap waktu dan kesempatan secara bertanggungjawab. Dengan sikap pasif berarti kita belum mengerahkan seluruh kemampuan, talenta dan karunia dari Tuhan secara optimal. Akibatnya seluruh kemampuan, talenta dan karunia dari Tuhan tersebut tidak pernah terasah, tidak terlatih dan tidak siap digunakan sesuai fungsinya, sehingga kita tidak memiliki perlengkapan senjata yang seharusnya untuk menghadapi kuasa kegelapan. Di dalam Rom 13:12 rasul Paulus memberi nasihat “Hari sudah malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!”

Lebih jauh Paulus meminta kita untuk tidak bersungut-sungut dalam mengikut Kristus meskipun kita masih menghadapi berbagai kesulitan, penderitaan dan tekanan hidup yang berat. Bila kita mengeluh kita akan sering kehilangan arah tujuan utama kita yaitu Kristus; dan kita ingin kembali ke dunia lama yaitu perbudakan dosa yang mana kita merasa dapat melampiaskan secara bebas segala hawa nafsu dan keinginan kita. Dengan perkataan lain, ketika kita kehingan tujuan utama dari kehidupan, maka kita akan berjalan menyimpang dari kehendak Tuhan. Akibatnya kehidupan kita akan dipenuhi dengan berbagai pesta pora, kemabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan dan iri hati.

Karena itu pertanyaan yang lebih mendalam adalah bagaimanakah sikap manusia mempraktekkan sikap berjaga-jaga dalam menantikan kedatangan Tuhan? Apakah setiap umat mampu berjaga-jaga secara transformatif dengan ditandai oleh sikap pertobatan dan pembaruan hidup? Sangat menarik di Mat.24:37-38, Tuhan Yesus memberikan gambaran umat manusia dalam menghadapi hari kedatangan Tuhan yang tidak terduga, yaitu “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera”. Melalui sabda Tuhan ini kita diminta untuk tidak terlena dengan segala kesenangan pribadi dan senantiasa memantaskan diri dan hati dihadapan Tuhan. Tidak melulu melekat pada hal-hal lahiriah dan jamaniah belaka, tetapu selalu memperhatikan ┬ádan memperbaiki hidup rohani kita. Di dunia yang selalu berubah meari kayakan diri untuk berubah seturut citra Allah sendiri. Amin.