We are apologize for the inconvenience but you need to download
more modern browser in order to be able to browse our page

Download Safari
Download Safari
Download Chrome
Download Chrome
Download Firefox
Download Firefox
Download IE 10+
Download IE 10+

Pionir Pertobatan

Pionir Pertobatan

Renungan Sabda Minggu Adven II, Tahun A/I : 3 – 4 Desember 2016

Oleh : Romo Nobertus Desiderius, OFMCap.

Menjadi seorang tokoh perintis atau pionir bukanlah hal yang gampang. Tantangan, ditolak, dicemooh, diremehkan, dianggap sok jagoan atau sok jadi pahlawan pasti akan kita hadapi. Menjadi seorang pionir sama artinya dengan berani melawan arus. Melakukan tindakan-tindakan atau gerakan-gerakan yang bertentangan dengan pendapat umum. Berarti juga kita siap melakukan atau menghadapi perlawanan dari lingkungan tempat kita berada. Karena kurang didukung atau tidak mendapat dukungan sama sekali, maka seorang pionir juga harus rela mengorbankan segala-galanya. Materi, tenaga, waktu, harga diri, status, bahkan mengandaikan atau mempertaruhkan nyawa sendiri. Demikianlah menjadi seorang perintis atau pionir berarti siap ditolak, dicemooh bahkan mengorbankan nyawa.

Dalam injil Markus yang kita dengar hari ini, Yohanes Pembaptis hanya mempunyai satu peran yaitu menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias. Ia menyerukan pertobatan kepada Allah melalui baptisan dan pengampunan dosa. Meskipun Yesus akan dibaptis oleh Yohanes, namun Yohanes menyadari bahwa peranannya tidak begitu penting dalam drama Yesus. Yohanes adalah model dari seorang saksi penuh mengenai Kristus. Yohanes yang berperan sebagai nabi atau tokoh terakhir dari perjanjian lama memperlihatkan posisinya sebagai tokoh perintis atau pionir bagi kedatangan sang Penyelamat.

Saudara-saudara terkasih didalam diri kita selalu ada rasa ingin tampil beda, melakukan sesuatu yang belum pernah orang lain lakukan. Sadar atau tidak keinginan itu ada di dalam diri setiap orang, Anda dan Saya. Namun keinginan itu terkadang didasari oleh ego kita. Supaya saya terkenal, dihormati, bahkan didewa-dewakan. Kita berbuat sesuatu karena kita berharap akan mendapatkan balasan (materi atau pujian). Mentalitas do ut des terkadang mendasari perbuatan “baik” kita. Yohanes pembaptis tidak pernah mau mengaku bahwa dirinya adalah Mesias, walaupun orang banyak menganggap dirinya adalah Mesias. Dia sudah dikenal banyak orang karena penampilan, sikap hidup dan tindakannya. Sebenarnya bisa saja dia mengaku diri sebagai Mesias, tetapi dia tidak mencari prestige. Dia tahu dan sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah membuka jalan atau mempersiapkan seorang yang lebih besar dari dirinya. Dialah Mesias yang sesungguhnya.

Kerendahan hati seperti yang diperlihatkan oleh Yohanes inilah yang juga harus kita miliki dalam sikap hidup kita setiap hari. Apapun yang kita buat setiap hari dalam tugas dan karya kita, bukan melulu untuk diri kita sendiri, tetapi kita persembahkan itu sebagai rasa syukur kita kepada Allah demi kebaikan semua.

Persoalannya bagaimana saya dapat menjadi rendah hati seperti Yohanes pembaptis. Jawabannya “kita perlu tobat”. Kita harus siap menjadi pionir-pionir kebaikan. Menjadi pion memang harus berkorban untuk Raja.

Masing-masing dari kita diundang untuk berani menjadi pionir untuk berbuat baik. Pelopor bagi diri sendiri untuk berbalik melawan arus dunia. Berani mengatakan “tidak” terhadap tawaran-tawaran dunia yang menggiurkan. Nahj, dimasa Adven ini maukah kita menjadi pionir-pinor pertobatan seperti yang diserukan oleh Yohanes pembaptis?