We are apologize for the inconvenience but you need to download
more modern browser in order to be able to browse our page

Download Safari
Download Safari
Download Chrome
Download Chrome
Download Firefox
Download Firefox
Download IE 10+
Download IE 10+

Situasi Batas Dan Harapan

Situasi Batas dan Harapan

Renungan Sabda Minggu Adven III, Tahun A/I : 10 – 11 Desember 2016

Oleh : Romo Nobertus Desiderius, OFMCap.

Hidup manusia mempunyai awal dan akhir. Kenyataan ini mengkondisikan adanya keterbatasan hidup manusia. Oleh karen itu dalam perjalanan dari awal menuju akhir tersebut kerap kali manusia menemukan adanya situasi-situasi batas (boundary situation). Menurut filsuf yang bernama Karl Jasper, manusia selalu berada dalam situasi batas, seperti penderitaan, situasi rasa berdosa atau salah dan situasi maut (mati). Manusia adalah mahluk yang secara kodratnya menghadapi penderitaan, kesengsaraan dan sebagainya. Penderitaan harus ditanggung sendiri dan masing-masing orang berbeda penderitaannya. Manusia juga mempunyai situasi batas adanya rasa dosa (bersalah) yang tidak dapat dihindari dan situasi batas yang paling pasti adalah maut (kematian). Manusia tidak mempunyai kebebasan untuk menghindar dari kematian. Kematian (maut) adalah batas akhir dari eksistensi manusia. Namun keterbatasan manusia itu sangat bergantung dari tansendensi Tuhan. Tuhan adalah kekuatan yang membawa orang pada satu harapan. Harapan yang meneguhkan dalam menjalani sistuasi-situasi batas.

Harapan akan adanya sesuatu yang baru, sesuatu yang menyelamatkan, sesuatu yang membawa kemenangan, sesuatu yang membuat perubahan dan kebangkitan, menjadi harapan bangsa Israel di tanah pembuangan (Yes 35:1-6a.10). Penyelamatan dan keadilan Allah adalah satu-satunya harapan yang dapat memberi semangat pada umat yang sedang putus asa dan lemah. Tuhan sendiri yang akan datang membela umatNya yang lemah dan menderita. “Kuatkanlah hatimu, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang membawa pembebasan dan ganjaran. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” Nubuat Yesaya kepada umatnya mengajak mereka untuk selalu bisa menjadikan Tuhan sebagai tumpuan harapan dan kekuatan. Allah tidak akan pernah meninggalkan umatNya. Penyelamatan dan pembebasan itu bersifat total, jasmani dan rohani.

Namun harapan akan penyelamatan itu harus dinantikan dengan penuh iman. Situasi-situasi batas yang kita hadapi itu harus dijalani dengan sikap sabar. Penderitaan, kesesakan dan segalanya yang tidak mengenakkan semestinya dimaknai dengan sikap iman yang aktif. Rasul Yakobus mengajak kita semua untuk menjadikan kesabaran sebagai keutamaan iman kristiani. Dengan bersikap sabar kita turut mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah. Hanya orang yang bersabar dengan rendah hati yang akan mampu keluar dari situasi batas dalam hidupnya. Dalam situasi-situasi genting kehidupan kita Yakobus mengajarkan supaya kita mengikuti teladan para nabi yang tetap setia dalam penderitaan.

Kesabaran dan kesetiaan yang sama juga ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini. “Jalan Penebusan” yang ditunjukkan oleh Yohanes adalah diri Yesus sendiri. Yohanes tidak pernah menunjuk atau mengakui diri sebagai penyelamat. Penyelamatan dan pembebasan itu hanya didalam Yesus. Dialah yang dipersiapkan dan dinantikan kedatanganNya oleh Yohanes Pembaptis. Dalam diri Yesus, Allah menggenapi janjiNya kepada umatNya. Hanya melalui Yesus segala situasi-situasi batas dalam hidup kita dapat terlampaui. Yesus adalah harapan satu-satunya diawal dan akhir hidup kita. Semoga kita selalu menjadikan Tuhan sebagai tempat sandaran dan penopang situasi batas hidup kita.