We are apologize for the inconvenience but you need to download
more modern browser in order to be able to browse our page

Download Safari
Download Safari
Download Chrome
Download Chrome
Download Firefox
Download Firefox
Download IE 10+
Download IE 10+

Seiya Sekata

Seiya Sekata

Renungan Sabda Hari Minggu Biasa III, Tahun A/I-2017 : 21-22 Januari 2017

Oleh : Romo Nobertus Desiderius, OFMCap.

Semakin banyak orang dalam suatu kelompok atau komunitas maka akan semakin besar kemungkinan adanya perpecahan dan perseteruan. Keadaan inilah yang akan melahirkan kelompok-kelompok baru. Dalam surat rasul Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus yang kita dengan minggu ini, diketengahkan gambaran klaim kelompok-kelompok dalam jemaat. Melalui suratnya ini Paulus menyatakan keinginan yang terdalam yang sangat ia dambakan yaitu agar tidak ada perpecahan di dalam kehidupan jemaat di Korintus. Entah dari golongan manapun jemaat itu dibentuk, jemaat itu tetap dalam satu keyakinan yang sama dan dipersatukan oleh Kristus sendiri.

Nasehat supaya seiya sekata dan sehati sepikir dalam membangun persatuan merupakan pernyataan yang sangat membesarkan hati. Pernyataan ini menyiratkan suatu maksud bahwa jemaat ini adalah jemaat yang sudah terbina dengan baik sejak awalnya. Jemaat yang sudah mengalami “pertumbuhan iman” dengan ┬ábaik pula. Oleh sebab itu melalui pernyataan ini, Paulus ingin menegaskan bahwa sangatlah tidak baik bila jemaat yang sudah tumbuh dengan baik pada akhirnya akan terpecah belah “hanya” oleh “ajaran yang menyesatkan”. Jangan sampai karena sikap ego pribadi menyebabkan perpecahan didalam jemaat. Jangan ada kelompok yang merasa lebih hebat dan superior dari yang lain. Didalam keberagaman jemaat diminta untuk bisa memikirkan kemajuan dan kebaikan bersama. Satu pemahaman, satu perasaan, dan memiliki sense of community.

Oleh sebab itu, Paulus mencoba “mengembalikan hakekat keimanan yang benar” dan dalam kehidupan iman yang benar, tidak ada seorang atau sekelompok orang yang lebih benar atau lebih besar daripada yang lain. Satu-satunya yang benar dan besar itu adalah Tuhan Yesus itu sendiri. Oleh sebab itu, bagi Paulus, setiap manusia yang sudah menerima, belajar dan bertumbuh didalam Yesus seharusnyalah menyatakan bahwa membesarkan keberadaan Yesus, itulah kehidupan yang sesungguhnya. Menyadari ulang bahwa keberadaan mereka dalam sebuah jemaat bukanlah sebagai sebuah usaha yang dilakukan oleh manusia (pribadi atau golongan tertentu). Namun keberadaan mereka sebagai sebuah jemaat adalah murni sebagai hasil karya pemanggilan Tuhan Allah agar barang siapa yang dipanggil untuk masuk dalam persekutuan kudusNya, menyadari bahwa karenaNya lah mereka bisa ada bersama-sama. Keberadaan mereka adalah untuk masing-masing dimampukan untuk menyatakan bahwa Tuhan Allah mereka lah yang memanggil dan mempersatukan mereka.

De facto, tidak mungkin setiap anggota gereja/umat memiliki pandangan yang sama terhadap setiap permasalahan yang muncul dalam gereja. Namun setiap orang dapat bekerja bersama-sama secara harmonis pada saat mereka sepakat pada satu hal yang paling utama, yaitu “Yesus Kristus adalah Tuhan atas semua”. Perbedaan pendapat yang tidak melawan kebenaran firman Tuhan seharusnya tidak boleh memecah belah umat Kristen. Oleh karena itu, Tuhan mengundang kita untuk bisa duduk bersama, mendengarkan bersama, berpikir bersama untuk kemajuan bersama demi Kerajaan Allah.