We are apologize for the inconvenience but you need to download
more modern browser in order to be able to browse our page

Download Safari
Download Safari
Download Chrome
Download Chrome
Download Firefox
Download Firefox
Download IE 10+
Download IE 10+

Pray, Hope And Don’t Worry

Pray, Hope And Don’t Worry

Renungan Sabda Hari Minggu Biasa III, Tahun A/I-2017 : 21-22 Januari 2017

Oleh : Romo Robertus Bellarminus, OFMCap.

Tanggal 30 November 2007, Paus Emeritus Benediktus XVI mengeluarkan ensiklik kedua yang berjudul “Spe Salvi Facti Sumus”, artinya “kita diselatkan dalam pengharapan” (Rom.8:24). Latar belakang penulisan ini diyakini karena adanya kecemasan, kekhawatiran atau ketidakpastian dalam hidup manusia zaman ini. Sadar atau tidak sadar kita sebagai manusa tentu jarang sekali dapat merasa hidup yang serba tenang, tenteram dan tidak mengalami kekhawatiran apapun. Bukan saja orang miskin atau berkekurangan, orang yang terkena bencana alam, ornag yang tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga orang-orang yang berkedudukan tinggi, yang memimpin, yang serba berkecukupan bahkan yang sangat kaya pun, mereka semua ini pun tidak bebas daro kekhawatiran.

Menghadapi kenyataan itu, nasihat Yesus supaya kita jangan khawatir atau jangan takut tidak mudah kita pahami. Bagi orang-orang kecil, yang sudah terbiasa hidup dengan serba berkekurangan pun tidak mudah untuk menerima begitu saja kata-kata Yesus itu. Apalagi bagi orang-orang yang berpendidikan, terutama mereka yang hidup berdasarkan perencanaan dan perhitungan di dunia yang makin maju ini, kata-kata Yesus sangat sukar dipahami dan diterima. Nasihat Yesus dianggap tidak realistis. Malahan dapat diartikan seolah-olah manusia tidak perlu khawatir atau takut, tak perlu berusaha atau bekerja giat. Seolah-olah Tuhan pasti akan memberikan yang dibutuhkan. Cukup percayalah saja kepada Tuhan yang maha baik, dan Ia pasti akan memberikan apa yang dibutuhkan manusia yang diciptakanNya. Tafsiran atau pengertian tentang kata-kata Yesus seperti ini tentulah keliru.

Kata-kata Yesus di dalam Injil harus selalu ditempatkan dan dipahami dalam konteks atau dalam hubungannya dengan kata-kata ajaranNya yang lain. Jangan ditafsirkan secara harafiah dan lepas dari keseluruhannya. Perlu memperhatikan aneka jenis atau sifat bahasa yang dipakai Yesus menurut zamanNya. Bila hal-hal ini tidak diperhatikan, maka Injil Kristus tidak dipahami dan tidak dihargai.

Yesus tidak mengajarkan murid-murid supaya bermalas-malasan. Buktinya Yesus bukan hanya menuntut supaya mereka bekerja giat, melainkan meninggalkan segalanya, demi kepentinganNya. Bekerja untuk kepentingan sendiri sudah berat, apalagi apabila orang mau sungguh memikirkan kepentingan Tuhan! Sebenarnya kata-kata Yesus “Janganlah kamu khawatir akan hari besok”(Mat.6:34) dalam Injil hari ini harus dibaca dan ditafsirkan menurut kata-kataNya pada awal Injil ini, yang berbunyi “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat.6:24). Inilah kunci tafsiran arti kata-kata yang diucapkan Yesus, yang mengajak kita jangan khawatir akan hari besok. Artinya, kita semua memang harus berusaha memikirkan masa depan kita sekuat-kuatnya, namun buka ¬†hanya itu. Kita sekaligus harus sadar, bahwa kita ini tidak berdiri sendiri, tidak menguasai diri sendiri, tidak melihat dan memperlakukan segalanya dengan sikap seolah-olah hanya kita sendirilah yang dapat melakukaknnya. Padalah segalanya ada milik Tuhan, dan diri kita sendiri pun adalah milikNya! Yang dimaksudkan Yesus ialah bahwa kita harus berusaha dan bekerja sepenuhnya, namun jangan disertai kekhawatiran atau ketakutan seakan-akan tidak akan berhasil. Kita diingatkan, bahwa kita masih memiliki Tuhan. Kita adalah milik Tuhan. Dan Tuhan selalu memperhatikan kita. Keyakinan dan kesadaran inilah yang akan membuat hidup tidak merasa tertekan dan penuh kekhawatiran.

Apa pesan Injil Matius hari ini kepada kita? Kita harus berusaha hidup sebaik dan secukup mungkin agar dapat hidup sejahtera dan bahagia. Namun hidup kita bukan hanya bersifat jasmani, melainkan juga rohani. Kedua unsur kehidupan kita itu harus diperhatikan dan diusahakan sebaik mungkin, secara seimbang, bukan dengan mementingkan yang satu dan tidak memperhatikan yang lain. Kita harus menghayati hidup jasmani kita dengan didampingi hidup rohani yang seimbang. Atau dengan kata lain, apabila hidup jasmani kita sehari-hari seperti pekerjaan, tugas, makan minum dan lain-lainnya memang kita lakukan, namun sekaligus menghayati hidup keagamaan kita, maka dengan demikian kita melakukan nasihat Yesus yang berkata “Janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat.6:34). Dengan demikian kata-kata Yesus itu memperteguh hidup kita penuh pengharapan, seperti ditegaskan oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma (Rom.8:24), dan diingatkan kembali oleh Paus Emeritus Benediktus XVI untuk umat Kristiani di zaman kita dewasa ini.