We are apologize for the inconvenience but you need to download
more modern browser in order to be able to browse our page

Download Safari
Download Safari
Download Chrome
Download Chrome
Download Firefox
Download Firefox
Download IE 10+
Download IE 10+

Mati atau Hidup Kekal

Mati atau Hidup Kekal

Renungan Sabda Hari Minggu Prapaskah V, Tahun A/I-2017 : 01-02 April 2017

Oleh :Romo Nobertus Desiderius, OFMCap.

Kubur dan kematian bagi kita mungkin adalah realitas yang menakutkan. Di sanalah tempat berakhir segalanya : kecantikan, ketampanan, status, nama besar, kedudukan, jabatan hancur dan membusuk. Badan kita yang fana lebur dalam gelapnya makam. Semua yang hidup tak luput dari kematian yang kelihatannya menakutkan itu. Beragam pertanyaan bisa muncul dari refleksi orang beriman atas kematian tersebut : sia-sialah kebaikan orang hidup jika memang berakhir dengan kematian dan dikuburkan? Apakah tidak ada hidup setelah kita mati? Harapan atau penghiburan apa yang ada dibalik kematian?

Bacaan-bacaan minggu ini seakan-akan menjadi titik terang bagi “kesia-siaan” sebuah kematian. Ada harapan dibalik kematian dan kubur. Dibangkitkannya Lazarus dari kematian oleh Yesus adalah sebuah tanda yang mengandung makna ganda. Tanda ini pertama-tama menunjuk kepada kebangkitan kita pada akhir zaman. Kedua, tanda ini juga menunjuk pada hidup yang diberikan Yesus kepada kita sekarang melalui sakramen pembaptisan.

Ketika Yesus mengatakan kepada Marta bahwa Lazarus akan dibangkitkan, perempuan itu menjawab : “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada orang-orang bangkit pada akhir zaman” (Yoh 11:24). Walaupun Marta merasa ragu, Yesus langsung melanjutkan langkah-Nya untuk membangkitkan Lazarus. Seperti Marta, kita kadang-kadang “mendorong” kuasa-kuasa Allah begitu jauh ke masa depan sehingga kita tidak dapat mengakui kuat kuasaNya sedang bekerja dalam diri kita disini, ditempat ini juga dan sekarang, pada saat ini juga. Dia memberikan hidup kepada kita sekarang melalui baptisan dan suatu hidup iman, sama jelasnya seperti ketika Dia membangkitkan Lazarus dari kuburnya. Kematian saat ini adalah awal dari kehidupan yang akan datang.

Dalam pembaptisan kita bangkit bersama Yesus untuk memulai sebuah perjalanan di mana kita pun akan mengalami kematian, namun kita juga akan bangkit – tubuh dan jiwa – kepada kehidupan kekal pada pengadilan terakhir. Lazarus adalah saksi yang kuat sekali tentang kuat kuasa Yesus untuk memberikan kehidupan sehingga membuat para pemimpin Yahudi ingin membunuhnya, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus (Yoh 12:10-11).

Nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama mendapatkan visi yang kuat tentang Roh Allah yang membangkitkan umatNya ke hidup yang baru. Di lembah tulang-tulang kering, sang nabi bernubuat, “Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berhembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali” (Yeh 37:9). Seperti kebangkitan Lazarus, visi Yehezkiel membuatkan hidup baru yang Allah berikan kepada kita pada hari ini seperti juga kebangkitan kita dari maut yang bersifat final. Allah tidak tinggal diam mengakhiri hidup dengan kematian tetapi Dia akan memberikan kehidupan dengan RohNya sendiri. Roh Tuhanlah yang akan diam didalam diri kita selanjutnya.

Bagaimana dengan kita sendiri? Ya, kita harus menerima rahmat baptisan jika kita ingin rahmat Allah kuat berakar dalam kehidupan kita. Visi nabi Yehezkiel tentang tulang-tulang kering mengajarkan bahwa adalah tanggung jawab kita untuk mendengarkan suara Allah : “[Allah] mula-mula bersabda kepada mereka, “Dengarlah firman TUHAN, hai kaum keturunan Yakub, hari segala kaum keluarga keturunan Israel” (Yer 2:4), dan engkau tidak mendengarkan; namun sekarang engkau telah mendengarkan. Ketika engkau hidup, engkau tidak mendengarkan, naun sekarang engkau mati, engkau telah mendengarkan!”. Kepada kita semua diajak untuk mendengarkan dan menerima panggilan Allah dalam kehidupan ini karena kita tidak akan mempunyai pilihan kecuali mendengarkan suara penghakiman Allah pada akhir zaman. Orang yang selama hidupnya mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti jalanNya, maka sesudah kematiannya Roh Allah akan menghidupkan tubuh yang mati itu untuk hidup yang kekal. Dengan demikian kematian kita adalah awal dari hidup kekal.